Oleh: aseprukmana | Februari 12, 2008

Peluklah KetidakPASTIAN – kata Sang Bijak

Apapun Menarik untuk AnakApapun Menarik untuk AnakApapun Menarik untuk AnakKetika berbicara nasib, kehidupan, masalah hidup, stuck of life, semuanya selalu dan akan selalu dihadapi semua orang.
Bayangkan, kehidupan tanpa semua itu. Kebahagiaan tak akan menjadi berarti, tanpa pernah tahu apa itu kesedihan, apalagi tidak pernah mengalaminya. Dalam sebuah cerita, Yesus – Tuhannya saudara kita yang Kristiani, atau Nabi Isa – di kalangan orang Islam, pernah bertanya tentang sebuah pohon yang bernama ‘pig tree’, ‘Is that pig tree have any pig?’. Orang di sekitarnya menjawab: ‘No”. Jika memang pohon tersebut, tidak memiliki pig atau apapun yang berhubungan dengannya. Tidak layak diberi nama ‘pig tree’. Saya terhentak, mendengar cerita tersebut. Sekarang ini, banyak sekali yayasan, perusahaan yang visi dan misinya mengatasnamakan integritas, keadilan, kebahagiaan, fairness (pokoknya apapun yang bermakna bagus didengar, dimasukkan ke dalamnya); tapi ketika kita selami lebih dalam ataupun kita berada di dalamnya, semuanya itu hanya isapan jempol belaka, ‘it will fly’ kata Jim Rohn, tidak ada artinya. Saya yakin, jika saja kata-kata Jesus, atau Nabi Isa kata orang Islam, boleh saya ulang, maka bunyinya ‘Jika organisasi tersebut, mengatasnamakan integritas, keadilan, kebahagiaan, fairness, tapi semua itu tidak ada di dalamnya; maka harusnya ganti nama’. He… he…

Masalah yang datang dan pergi, sebenarnya yang akan menjadikan kita menjadi mutiara dalam kehidupan ini (ungkap Gede Prama, sang bijak yang sangat bijak dalam kata dan perbuatannya). So… sambutlah masalah tersebut, Tracy dalam 18 Ways to Program teh Mind for Succes bilang ‘Always Feed the Mind Positively’. Salah satu cara untuk memberi makan pikiran ini adalah dengan memeluk ketidakpastian, sebagai jalan yang akan mengasah kita menjadi exceptional people – kata Stephen Covey. Wah.. banyak nyaru orang-orang beken…. maklum supaya kelihatan intelek.

Sebagian orang menganggap, pekerjaan adalah hal terberat dalam hidupnya, bekerja karena kewajiban untuk menghidupi orang yang dicintainya. Sepertinya, hal tersebut sudah bukan jamannya lagi – kata nenek saya ‘tos katinggalan jaman, eta mah waktos jaman tai kotok di lebuan – sudah ketinggalan jaman, hal tersebut hanya terjadi waktu jaman kotoran ayam …. tidak tahu terjemahnya. Sekarang adalah jamannya, bekerja sebagai bagian dari sumbangsih kita, atas hak hidup kita di muka bumi ini, begitu juga dengan beramal dan membahagiaan keluarga. Kita tidak layak hidup di alam ini, tanpa melakukan hal tersebut. Wah filosofis sekali,… itulah yang sebenarnya, semua hal sebenarnya harus dimulai dari filosofis, bukan motivasi. Karena kalau memotivasi orang gila, tentunya kurang menghasilkan. Kita tahu gila tidaknya, melalui knowledge terlebih dahulu, setelah tahu tidak gila, baru menyampaikan motivasi. Tapi, adakalanya, dengan ilmu kita, kita menjadi bersikap baik terhadap semua orang, termasuk orang gila, untuk membuat dia balik kembali dari kegilaannya dan menjadi tidak gila. wah … sedikit ngawur.

Ingat David Cheriton, karena ilmu dan attitudenya terhadap dua muridnya Larry dan Sergey – pendiri Google, menjadikannya dosen bilyuner.

Any way, la vita eta bella, la vie est belle, life is beatiful, hidup itu indah. Peluklah orang yang terdekat dengan Anda, istri, anak, keluarga, seberapa besar pun mereka telah mengecewakan anda. Jangan sampai momentnya hilang, ketika semua orang sudah
hilang dari permukaan bumi ini!


Tanggapan

  1. Salah satu cara untuk memberi makan pikiran ini adalah dengan memeluk ketidakpastian, sebagai jalan yang akan mengasah kita menjadi exceptional people

    Maksudnya apa ya Pak Asep, kalimat diatas ?

    BTW mau ikut dipeluk Pak Asep :)

  2. Berat sekali menjalani hidup, jika filosofinya salah … ya…..

    Harus belajar lagi nih!

    Kalau filosofi itu apa ya?

  3. Sekarang aku mengerti apa makna “memeluk ketidakpastian:)

  4. Apa artinya pak Asep Almuqarrom? mas rayyan ga cerita2…

  5. hitutmu bau bugang heuh….!


Beri tanggapan

Your response:

Kategori